Tabungan Pendidikan : Masa Depan Anak

Posted: April 26, 2009 in Keuangan & Perbankan

NT5272852Di waktu-waktu seperti sekarang ini, di saat anak-anak mulai mendaftar ke sekolah baru, terasa benar betapa mahalnya pendidikan di Tanah Air. Biaya yang harus dikeluarkan di sebuah taman kanak-kanak berkualitas, misalnya, bisa mencapai Rp 20 juta per tahun. Tingginya biaya pendidikan ini, sebetulnya, bisa dibuat ringan jika saja para orang tua rajin menabung untuk keperluan yang dapat diperkirakan ini.

Apalagi, sejak tahun silam, mulai banyak bank di Tanah Air yang membuka program tabungan pendidikan. Bank Permata membuka tabungan Permata Pendidikan , pada September 2003. Kemudian Bank Mandiri menawarkan Tabungan Rencana Mandiri (TRM) pada April lalu. Sementara itu BNI memiliki program Tabungan Pendidikan Anak Sekolah (Tapenas), sejak 2 Mei yang baru lalu.

Untuk tabungan pendidikan yang baru-baru itu, kiprah Permata Pendidikan bisa diberi garis bawah yang tebal. Sebab, sejak beroperasi 9 bulan lalu, menurut Gunawidjaja (Head of Product Development and Business Support Bank Permata), tabungan pendidikan di bank ini sudah berhasil menggaet 50 ribu nasabah atau seperempat dari peserta Niaga Pendidikan. Sementara itu, Bank Mandiri baru mengumpulkan 1.800 rekening dengan jumlah dana Rp 450 juta pada dua bulan pertama kiprahnya. Untuk BNI, di bulan pertama menjajakan produk, bank ini baru mengumpulkan 633 nasabah dengan jumlah tabungan sebesar Rp 232 juta.

PERHATIKAN TINGKAT BUNGANYA

Meningkatnya peminat tabungan pendidikan, dengan sendirinya, telah membuat persaingan antarbank meninggi. Tiap-tiap bank memiliki strategi tersendiri untuk bisa menggaet nasabah sebanyak-banyaknya. BNI, misalnya, membidik nasabah kelas menengah ke bawah. Karena itu, Tapenas diupayakan semurah dan semudah mungkin. Nasabah bisa mengikuti program ini dengan besar tabungan Rp 100 ribu per bulan.

Meski membidik pasar yang luas, Tapenas masih tersendat perkembangannya. Masalahnya, masyarakat menengah bawah umumnya belum sadar akan pentingnya tabungan pendidikan. â€Biasanya mereka baru sibuk mencari dana menjelang tahun ajaran baru,†kata Achmad Baiquni, Direktur Konsumer BNI.

Nah, berkaitan dengan minat konsumen, yang menjadi perhatian utama bagi calon peserta dalam memilih tabungan pendidikan adalah besar bunga yang diberikan bank.

Selain itu, yang juga menjadi perhatian konsumen adalah soal asuransi atau perlindungan. Ini penting mengingat tabungan pendidikan merupakan investasi jangka panjang. Ada kemungkinan sesuatu yang tak diinginkan terjadi pada tenggang waktu yang lama itu. Misalnya, orang tua meninggal.

Ada dua jenis perlindungan yang umumnya ditawarkan. Yang pertama, bila orang tua meninggal sebelum waktu jatuh tempo, asuransi akan mengambil alih pembayaran cicilan bulanan hingga masa pembayaran berakhir. Si anak, kelak, tetap mendapat pencairan dana sebagaimana direncanakan. Untuk asuransi jenis ini, ada bank yang memberlakukan pembayaran premi asuransi dan ada pula bank yang tak memberlakukan pembayaran premi (karena premi ditanggung bank).

Perlindungan jenis kedua bisa berupa pencairan kredit dan memberi asuransi sekian kali cicilan bulanan bila orang tua meninggal. Sebagaimana jenis perlindungan yang pertama, ada bank yang membebankan premi asuransi kepada nasabah dan ada pula yang menanggungnya sendiri.

Beberapa bank, seperti BNI, memberi beberapa opsi asuransi yang bisa diambil. Ada yang membayar kompensasi kematian dan ada pula yang meneruskan pembayaran cicilan bulanan. Sementara itu, Permata Pendidikan memberi kebebasan kepada nasabah. Mereka dipersilakan untuk memilih: mengambil program asuransi atau tidak.

BERBEDA DENGAN ASURANSI PENDIDIKAN

Karena pendidikan anak bersifat berjenjang, orang tua disarankan membuka rekening pendidikan yang terpisah untuk tiap-tiap anak dan jenjang pendidikan. Jadi, sebagai ilustrasi saja, orang tua sebaiknya membuka rekening tabungan pendidikan khusus untuk si Cikal masuk taman kanak-kanak, rekening yang lain lagi untuk sekolah dasar, dan begitu seterusnya hingga tingkat universitas.

Besar cicilan bulanan tiap-tiap rekening bisa disesuaikan dengan perkiraan dana yang dibutuhkan atau kemampuan membayar. Logikanya, semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin besar dana yang dibutuhkan.

Yang juga sering terjadi, para orang tua bingung memilih antara mengambil tabungan pendidikan dan asuransi pendidikan. Meski prinsipnya mirip, sebetulnya terdapat beberapa perbedaan di antara keduanya.

Perbedaan paling mencolok menyangkut cara melihat persoalan. Asuransi pendidikan melakukan perhitungan dari belakang. Asuransi ini, mula-mula, memperkirakan kebutuhan dana di saat anak masuk sekolah. Dari situ dihitung berapa premi yang harus dibayar nasabah setiap tahun atau bulan. Sebaliknya, pihak tabungan pendidikan lebih cenderung melakukan perhitungan berdasarkan kondisi sekarang. Mereka melihat kemampuan nasabah dalam menabung dan baru kemudian memperkirakan hasil yang bisa diperoleh saat si anak masuk sekolah.

Salah satu kelebihan tabungan asuransi, beberapa bank memperbolehkan nasabahnya mengubah-ubah besar tabungan bulanan yang disetorkan. Jadi, bisa saja orang tua memulai tabungan dengan cicilan Rp 100 ribu per bulan. Kemudian, setelah kondisi ekonomi lebih mapan, besar tabungan bisa dinaikkan menjadi Rp 300 ribu per bulan. Dan saat keuangan memburuk, tabungan bisa diturunkan lagi menjadi Rp 100 ribu per bulan. Kini, pilihan ada di tangan Anda.

sumber : Majalah Trust/Investasi/38/2004

referensi : Permata Pendidikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s